Malu pada tanah yang selalu diinjak
Namun tak pernah mengeluh kesakitan
Sedang aku selalu merasa kekurangan dan hina
Padahal aku sudah diberi tempat yang layak
Malu pada awan putih
Bersih tanpa noda
Sedang aku selalu mengotori hati ini
Padahal Tuhan telah berfirman untuk menjaga hati
Malu pada laut yang kaya isinya
Luas terbentang dimuka bumi
Sedang aku selalu menyombongkan diri
Padahal ilmu ku tak sebanding air laut beserta isinya
Malu pada bintang dan matahari
Yang selalu bersinar terang
Sedang aku merasa paling hebat
Padahal aku belum menyinari rumah piatu yang gelap
Dan Aku pun mulai malu
Pada gunung, hutang, dan air
Pada pelangi, senja, dan fajar
Pada tetesan embun, dan debu
Bahwa semuanya memiliki kharisma
Namun mereka hanya diam dalam pesona yang menakjubkan
Sedang aku masih sibuk mengurus diriku
Yang tak pernah puas dan lupa
Padahal Tuhan sudah memberi tanda
Pada setiap bentuk yang ada dibumi
Lantas nikmat apa lagi
Yang harus aku pertanyakan?
Sungguh, Aku pun mulai malu…!!
R. Leikawa
Ambon, 1 Juli 2015
Rabu, 01 Juli 2015
Selasa, 31 Maret 2015
Silaturrahmi Dengan Batin
Karena tak
pernah bertemu, bersua dan melepas tawa
Karena tak
bisa menyentuh dan memeluk
Jadilah
rindu yang membara
Keinginan
untuk menyapa seperti ingin mencakar rambut
Apa tempo
hati bisa riang kembali?
Sedangkan
waktu belum menjawab
Apa harus
membongkar tembok?
Sedangkan
besi yang jadi dinding pemisah
Duhai
kekasih yang sendiri dikesunyian sana
Meski raga
tak bisa bersua
Coba
rasakan yang ada dihati
Barangkali
renungan kita sama
Karena hati
begitu merindu, jiwa akan terhimpun
Bersatu
walau tak nampak, hanya kita yang rasa
Dan aku
akan datang penuhi keinginan itu
Walau
sebatas silaturrahmi dengan batin
R. Leikawa
Morella, 31 Maret 2015
14.00 WIT
Jumat, 20 Maret 2015
Karena Kita Tak Bersalah
Karena Kita Tak Bersalah
Kau tak
bersalah
Karena kau
bebas merdeka
Kau tak
berkhianat
Karena kau
pantas memilih
Jika sudah rasakan
arti merdeka
Jangan lupa
pertahankan niat di hati
Jikalah yakin
dengan pilihan
Jangan lupa
sujud syukur
Kau yang
telah merdeka
Ku akui
kemenanganmu
Kau yang
telah memilih
Ku pasrahkan
padaNYA
Jika suatu
saat ku hilang dari penglihatan
Jangan kau
cari lagi kemana bayanganku
Jika suara
tak terdengar disudut rumah
Jangan kau
tanya kemana daku berada
Karena aku
yang kalah,
Telah menangkan
hasratku
Karena aku
bukan pilihan,
Akan jadi
pilihan yang lain
Karena kita
yang pernah memiliki
Jangan lagi
terulang rasa
Karena Kita
tak bersalah
Cinta itu
perlu restu dariNYA
R.
Leikawa
Waeheru, Maret 2015
01.45 WIT
Seharusnya
Seharusnya
kau datang
Karena aku
menunggumu
Seharusnya
kau bicara
Karena aku
ingin mendengarnya
Seharusnya
kau tak perlu berjanji
Jika itu
membuatmu lupa
Seharusnya
kau tak perlu berikrar
Jika pada
akhirnya kau berkhianat
Seharusnya..
Aku tak
perlu menunggu
Percaya dan
berharap
Mendengar
dan melihat
Jika itu
hanya mimpi
Seharusnya
hati ini lebih dulu berpaling
Seharusnya
sejak dulu langkah ini meninggalkanmu
Seharusnya
waktu kita tak pernah bersua
R. Leikawa
Waeheru, 22 Februari 2014
12.19 WIT
Kamis, 14 Agustus 2014
Irama
Ini Irama ku
Itu Irama mu
Irama kita berbeda
Jika disatukan akan Indah hasilnya
Irama kiri dan kanan
Jika diluruskan
Akan terasa Bersatu
Irama diatas
Irama dibawah
Jika tepat ditengah
Semua bisa menikmatinya
Mari menari, bernyanyi..
Dengan Irama Hati
Karena hati yang ber-Irama
Selalu setia
Mari Langkahkan kaki
Dengan Irama
Karena kaki yang ber-Irama
Selalu tepat
R. Leikawa
Waeheru, 13 Agustus 2014
20.55 WIT
Itu Irama mu
Irama kita berbeda
Jika disatukan akan Indah hasilnya
Irama kiri dan kanan
Jika diluruskan
Akan terasa Bersatu
Irama diatas
Irama dibawah
Jika tepat ditengah
Semua bisa menikmatinya
Mari menari, bernyanyi..
Dengan Irama Hati
Karena hati yang ber-Irama
Selalu setia
Mari Langkahkan kaki
Dengan Irama
Karena kaki yang ber-Irama
Selalu tepat
R. Leikawa
Waeheru, 13 Agustus 2014
20.55 WIT
Senin, 30 Juni 2014
Jika Datang Bulan Baru
Maka datanglah Tanggal Baru.. Tak semua orang bersuka cita
Namun semoga ada harapan untuk bernafas lagi...
Maka tibalah Bulan baru, Tak semua orang punya impian baru..
Karena sebagian dari mereka, masih ingin larut dengan kenangan lama
Dan pada suatu hari nanti
Jasad kita tak akan ada lagi
Suara kita tak terdengar lagi
Impian pun tak ada
Cuma Karya yang kita tinggalkan
Cuma Kenangan yang kita sisakan
Jika, datang Tanggal baru,, sambut dia dengan kebahagiaan
buat rencana, buat target masa depan
Jika datang Bulan baru, sambut dia dengan harapan baru
karena kemarin tlah terlewati dengan warna yang berbeda
Ukir sejarah hidup kita masing-masing dengan tinta prestasi
Berbuat kebaikan, bermanfaat untuk orang lain dan terus berkarya
Agar dunia tahu bahwa kita pernah hidup
R. Leikawa
Ambon, 1 Juli 2014
07.30 WIT
Namun semoga ada harapan untuk bernafas lagi...
Maka tibalah Bulan baru, Tak semua orang punya impian baru..
Karena sebagian dari mereka, masih ingin larut dengan kenangan lama
Dan pada suatu hari nanti
Jasad kita tak akan ada lagi
Suara kita tak terdengar lagi
Impian pun tak ada
Cuma Karya yang kita tinggalkan
Cuma Kenangan yang kita sisakan
Jika, datang Tanggal baru,, sambut dia dengan kebahagiaan
buat rencana, buat target masa depan
Jika datang Bulan baru, sambut dia dengan harapan baru
karena kemarin tlah terlewati dengan warna yang berbeda
Ukir sejarah hidup kita masing-masing dengan tinta prestasi
Berbuat kebaikan, bermanfaat untuk orang lain dan terus berkarya
Agar dunia tahu bahwa kita pernah hidup
R. Leikawa
Ambon, 1 Juli 2014
07.30 WIT
Sabtu, 28 Juni 2014
Rindu Itu Menyakitkan
Merindumu sama saja membunuhku secara perlahan
Sakit hingga terasa ke tulang
Jemari terasa kaku
Mata menangis, tak terhitung
Hati seperti teriris
Panas sekujur tubuh
Merindumu adalah penyakit untukku
Yang tak ada obatnya
Sudah ku cari ke semua penjuru
Namun sakitnya merindu tak terobati
Jarak, waktu, dan ruang
tidak pernah berpihak pada kita
Pertemuan yang tak pernah di ridhohi
Rindu itu sakit
Engkau dimana?
Aku dimana?
Tapi begitu besar hati ini memposisikanmu begitu istimewa
Dan kau tak pernah tahu itu
Karena bagimu telah usai Jalinan kasih
Rindu itu perih
Karena hanya aku yang rasakan
Seperti ada yang mengiris hati
Air mata tak dapat terbendungkan
Mengalir tak terhalangi
Rindu itu Menyakitkan
Saat rasa yang tak bisa diucapkan
Dan hanya disimpan dalam hati
Sendiri terlewati diatas harapan
Apakah ini bentuk penguatan jiwa?
Ataukah proses menyabarkan Hati?
Entahlah
Yang ku tahu rindu itu menyakitkan
Sakit sekali
R. Leikawa
Ambon 20 Juni 2014
23. 50 WIT
Sakit hingga terasa ke tulang
Jemari terasa kaku
Mata menangis, tak terhitung
Hati seperti teriris
Panas sekujur tubuh
Merindumu adalah penyakit untukku
Yang tak ada obatnya
Sudah ku cari ke semua penjuru
Namun sakitnya merindu tak terobati
Jarak, waktu, dan ruang
tidak pernah berpihak pada kita
Pertemuan yang tak pernah di ridhohi
Rindu itu sakit
Engkau dimana?
Aku dimana?
Tapi begitu besar hati ini memposisikanmu begitu istimewa
Dan kau tak pernah tahu itu
Karena bagimu telah usai Jalinan kasih
Rindu itu perih
Karena hanya aku yang rasakan
Seperti ada yang mengiris hati
Air mata tak dapat terbendungkan
Mengalir tak terhalangi
Rindu itu Menyakitkan
Saat rasa yang tak bisa diucapkan
Dan hanya disimpan dalam hati
Sendiri terlewati diatas harapan
Apakah ini bentuk penguatan jiwa?
Ataukah proses menyabarkan Hati?
Entahlah
Yang ku tahu rindu itu menyakitkan
Sakit sekali
R. Leikawa
Ambon 20 Juni 2014
23. 50 WIT
Langganan:
Postingan (Atom)